PUASA WADAH
PEMBENTUKAN KARAKTER
Oleh :
Darmansyah
Ketua DPRD
kabupaten Majene
Dua belas bulan dalam setahun, ada satu bulan yang
dipersiapkan khusus oleh Allah Swt. Sebagai wadah pendidikan karakter bagi kaum
muslimin guna lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Bulan itu adalah bulan
ramadhan, di dalamnya ada beberapa ibadah yang diwajibkan dan harus ditunaikan
oleh kaum muslimin, juga ada ibadah sunnat, yang nilai pahalanya menyamai
dengan ibadah wajib diluar bulan ramadhan.
Kewajiban yang harus ditunaikan dalam bulan
ramadhan yang tidak diwajibkan dibulan
lain; adalah ibadah puasa dan membayar zakat fitra. Pembelajaran yang harus diambil dalam pelaksanaan ibadah puasa
tersebut adalah; Pertama melahirkan kepedulian kepada sesama atau kesalehan
sosial. Bagi yang melaksanakan ibadah puasa pasti merasa lapar dan dahaga,
semua itu ihlas dilakukan untuk sementara waktu karena mengharap ridha Allah semata.
Dari itu akan timbul kesadaran untuk gemar memberi, Wa mimma razaqnahum yunfiqun (Menginfakkan sebagian reski yang
Allah berikan kepada mereka). Mereka sadar bahwa pada harta mereka terdapat
hak-hak orang lain yang harus ditunaikan. Yang kedua mereka yang melaksanakan
ibadah puasa akan menjadi pribadi yang disiplin dan tepat waktu, karena puasa
terdapat pendidikan karakter yaitu diwaktu sahur dan diwaktu berbuka puasa -
harus tepat waktu. Pembelajaran puasa
ini hendaknya diaplikasikan dalam keseharian ummat muslim dalam melaksanakan
tugas kenegaraan dan kemasyarakatan, lihatlah misalnya diwaktu berbuka, kita
berkumpul – duduk didepan meja menunggu waktu berbuka. Begitu juga di waktu
sahur, harus tepat waktu dan bila lambat sedikit maka puasanya tidak berarti.
Berikut pendidikan karakter yang dipetik dari
ibadah puasa adalah kejujuran. Ibadah puasa adalah ibadah rahasia, hanya yang
bersangkutan dan Allah saja yang mengetahui apakah ia puasa atau tidak, karena
bisa saja memperlihatkan bibir kering, berlaga lesu - untuk mengelabui orang
lain, padahal ia tidak puasa. Ini namanya puasa palsu, maklum sekarang juga
musim palsu; ijazah palsu, beras palsu, merica palsu, madu palsu, daging palsu
(celeng, bukan kotak amal yang biasa diedar di Masjid, tapi daging babi - yang
katanya daging sapi) dan sekali lagi tidak menutup kemungkinan ada juga puasa
palsu. Dan menjelang hari raya idil fitri para amil hendaknya berhati–hati
menerima zakat fitra, jangan-jangan dibayarkan dengan uang palsu. Uang palsu
itu ada dua jenis; palsu karena jenisnya dan palsu karena cara perolehannya.
Tapi mereka yang berpuasa dengan penuh keimanan, akan melahirikan pribadi yang
jujur. Sebuah kissa yang perna dicontohkan oleh Mubaraq, seorang budak belian
yang jujur. Suatu ketika perna ditanya Sang majikan. Ya Mubaraq – kepada siapa
yang harus kunikahkan putriku ? – Mubaraq menjawab, kalau orang Yahudi
kebiasaannya harus orang kaya, kalau orang Nasrani maka harus orang tampan,
tapi kalau orang Islam harus orang bertaqwa. Sang majikan lalu berpikir, bahwa
salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah memiliki sifat jujur, dan tidak ada
orang yang paling jujur disisinya selain budaknya. Saat itupun Mubaraq
dimerdekakan dan dinikahkan sama putri majikannya. Dan dari perkawinan itu
melahirkan seorang sufi dan ulama besar, namanya Abdullah Bin Mubaraq.
Puasa sebagaimana yang difirmankan Allah Swt.
dalam Al-Qur’an (Q.S : Al-Baqara ayat : 183) “ Wahai orang – orang yang
beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang –
orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. Dari ayat ini dapat dimengerti bahwa
tujuan ibadah puasa adalah La ‘allakum tattaquwn” agar kamu
bertaqwa. Salah satu bentuk ketaqwaan adalah kesalehan Sosial, kejujuran, dan
kedisiplinan.
Bila kita melihat fenomena bangsa Indonesia saat
ini, nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, dan kesalehan sosial menjadi sesuatu
yang langkah, padahal setiap tahun kita berpuasa bila ramadhan tiba, lalu
dimana makna dan tujuan ibadah puasa, apakah puasa yang kita laksanakan gagal,
lagi-lagi mungkin karena puasa palsu yang kita laksanakan. Puasa palsu ini
ternyata berimbas kepada fenomena sosial ummat muslim disetiap bulan ramadhan,
lihat saja misalnya disaat memasuki bulan ramadhan justru harga semakin
melambung, menurut hukum pasar makin sedikit pembeli maka harga semakin turun.
Tapi kenyataan yang melanda, disaat tidak makan dan minum di siang hari karena
berpuasa, justru kebutuhan pokok bertambah – hargapun melonjat. Syukur – syukur
kalau belanja itu digunakan untuk menafkahi yang berkekurangan. Bulan ramadhan
semestinya ummat islam menjadikannya sebagai bulan berkah, bulan pengendalian
diri, bulan kasih sayang, bukan untuk serakah.
Diakhir – akhir ramadhan semestinya dimanfaatkan
memperbanyak ibadah, ramadhan disahabati/didekati karena akan pergi - tinggal
beberapa hari lagi. tapi justru sibuk bergaya hidup mewah menyongsong masuknya
hari Raya Idil fitri. Mereka yang memahami makna dan nilai yang terkandung
diakhir – akhir ramadhan akan
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sibuk beribadah kepada Allah, mereka
sadar bahwa ramadkan semakin tua semakin besar manfaatnya, bukan sibuk ke pasar
dan ditempat-tempat belanja.
Mereka yang gemar bergaya hidup mewah akan
memaknai bahwa tujuan bulan puasa adalah untuk menyongsong masuknya hari
lebaran, dimana harus berpenampilan serba baru, mulai dari prabot rumah tangga;
kursi baru, gorden baru, sibuk bikin kue lebaran, kendaraan baru, melaksanakan
tradisi berbuka (Mappabuka) dikalangan elit dan pejabat, dan yang banyak
diundang adalah yang berkecukupan, adapun orang kurang mampu juga hadir tapi
untuk memasak dan mempersiapkan sarana dan prasarana yang nantinya akan
digunakan pada saat buka bersama. dan lain sebagainya. Karena kesibukan yang
bersifat keduniaan itu, mereka tidak sadar bahwa diakhir ramadhan ada satu
malam yang lebih baik dari pada seribu bulan “Khairum min alfi sahrin”, yaitu
malam kemuliaan. Malam lailatul kadar pun lewat, tak berbekas sama sekali.
Kesadaran untuk bersedekah, berinfak, dan membayar
zakat fitra dibulan ramadhan hendaknya ditingkatkan, karena itulah yang
menghubungkan tali persaudaraan kepada sesama, penghubung antara simiskin dan
sikaya, tanpa ada rasa minder bagi penerima – karena mereka punya hak, dan tak
ada rasa bangga bagi pemberi – karena pada hartanya ada hak orang lain yang
wajib diberikan.
Ada budaya baru dikalangan ummat muslim diakhir
abad ini, dan penulis khawatir akan menggeser budaya lama, yaitu tidak lagi
saling kunjung mengunjungi, tapi cukup dengan ucapan selamat hari raya idil
fitri – mohon ma’ af lahir dan bathin melalui pesan singkat (SMS). Tradisi baru
ini bukan tidak boleh, tapi jauh lebih bermakna jika tradisi/budaya lama
dipertahankan, yaitu saling kunjung – mengunjungi - bersilaturrahmi diantara
kerabat.
Budaya bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh
bangsa lain adalah ber Halal Bi Halal, dan ini perlu dilestarikan. Halal Bi
Halal adalah saling mengikhlaskan kata ma’af atas salah yang telah terjadi, dan
menghalalkan tegur - sapa yang tadinya haram, karena tidak saling menyapa (baku
bombe).
Selamat menjalankan ibadah puasa, dan ibadah
lain dibulan ramadhan semoga kita menjadi orang yang muttaqin. Dan semoga Tuhan
tambahkan nikmat-Nya yang telah kita infak dan sadakahkan, serta yang kita
zakatkan kepada kaum duafa, amin. Minal aidin wal faizin, mohon ma’ af lahir
dan bathin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar