Rabu, 27 Januari 2016



PUASA WADAH PEMBENTUKAN KARAKTER

Oleh : Darmansyah
Ketua DPRD kabupaten Majene

Dua belas bulan dalam setahun, ada satu bulan yang dipersiapkan khusus oleh Allah Swt. Sebagai wadah pendidikan karakter bagi kaum muslimin guna lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Bulan itu adalah bulan ramadhan, di dalamnya ada beberapa ibadah yang diwajibkan dan harus ditunaikan oleh kaum muslimin, juga ada ibadah sunnat, yang nilai pahalanya menyamai dengan ibadah wajib diluar bulan ramadhan.
Kewajiban yang harus ditunaikan dalam bulan ramadhan yang tidak  diwajibkan dibulan lain; adalah ibadah puasa dan membayar zakat fitra. Pembelajaran yang harus  diambil dalam pelaksanaan ibadah puasa tersebut adalah; Pertama melahirkan kepedulian kepada sesama atau kesalehan sosial. Bagi yang melaksanakan ibadah puasa pasti merasa lapar dan dahaga, semua itu ihlas dilakukan untuk sementara waktu karena mengharap ridha Allah semata. Dari itu akan  timbul kesadaran  untuk gemar memberi, Wa mimma razaqnahum yunfiqun  (Menginfakkan sebagian reski yang Allah berikan kepada mereka). Mereka sadar bahwa pada harta mereka terdapat hak-hak orang lain yang harus ditunaikan. Yang kedua mereka yang melaksanakan ibadah puasa akan menjadi pribadi yang disiplin dan tepat waktu, karena puasa terdapat pendidikan karakter yaitu diwaktu sahur dan diwaktu berbuka puasa - harus tepat  waktu. Pembelajaran puasa ini hendaknya diaplikasikan dalam keseharian ummat muslim dalam melaksanakan tugas kenegaraan dan kemasyarakatan, lihatlah misalnya diwaktu berbuka, kita berkumpul – duduk didepan meja menunggu waktu berbuka. Begitu juga di waktu sahur, harus tepat waktu dan bila lambat sedikit maka puasanya tidak berarti.
Berikut pendidikan karakter yang dipetik dari ibadah puasa adalah kejujuran. Ibadah puasa adalah ibadah rahasia, hanya yang bersangkutan dan Allah saja yang mengetahui apakah ia puasa atau tidak, karena bisa saja memperlihatkan bibir kering, berlaga lesu - untuk mengelabui orang lain, padahal ia tidak puasa. Ini namanya puasa palsu, maklum sekarang juga musim palsu; ijazah palsu, beras palsu, merica palsu, madu palsu, daging palsu (celeng, bukan kotak amal yang biasa diedar di Masjid, tapi daging babi - yang katanya daging sapi) dan sekali lagi tidak menutup kemungkinan ada juga puasa palsu. Dan menjelang hari raya idil fitri para amil hendaknya berhati–hati menerima zakat fitra, jangan-jangan dibayarkan dengan uang palsu. Uang palsu itu ada dua jenis; palsu karena jenisnya dan palsu karena cara perolehannya. Tapi mereka yang berpuasa dengan penuh keimanan, akan melahirikan pribadi yang jujur. Sebuah kissa yang perna dicontohkan oleh Mubaraq, seorang budak belian yang jujur. Suatu ketika perna ditanya Sang majikan. Ya Mubaraq – kepada siapa yang harus kunikahkan putriku ? – Mubaraq menjawab, kalau orang Yahudi kebiasaannya harus orang kaya, kalau orang Nasrani maka harus orang tampan, tapi kalau orang Islam harus orang bertaqwa. Sang majikan lalu berpikir, bahwa salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah memiliki sifat jujur, dan tidak ada orang yang paling jujur disisinya selain budaknya. Saat itupun Mubaraq dimerdekakan dan dinikahkan sama putri majikannya. Dan dari perkawinan itu melahirkan seorang sufi dan ulama besar, namanya Abdullah Bin Mubaraq.
Puasa sebagaimana yang difirmankan Allah Swt. dalam Al-Qur’an (Q.S : Al-Baqara ayat : 183) “ Wahai orang – orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. Dari ayat ini dapat dimengerti bahwa tujuan ibadah puasa adalah La ‘allakum tattaquwn” agar kamu bertaqwa. Salah satu bentuk ketaqwaan adalah kesalehan Sosial, kejujuran, dan kedisiplinan.
Bila kita melihat fenomena bangsa Indonesia saat ini, nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, dan kesalehan sosial menjadi sesuatu yang langkah, padahal setiap tahun kita berpuasa bila ramadhan tiba, lalu dimana makna dan tujuan ibadah puasa, apakah puasa yang kita laksanakan gagal, lagi-lagi mungkin karena puasa palsu yang kita laksanakan. Puasa palsu ini ternyata berimbas kepada fenomena sosial ummat muslim disetiap bulan ramadhan, lihat saja misalnya disaat memasuki bulan ramadhan justru harga semakin melambung, menurut hukum pasar makin sedikit pembeli maka harga semakin turun. Tapi kenyataan yang melanda, disaat tidak makan dan minum di siang hari karena berpuasa, justru kebutuhan pokok bertambah – hargapun melonjat. Syukur – syukur kalau belanja itu digunakan untuk menafkahi yang berkekurangan. Bulan ramadhan semestinya ummat islam menjadikannya sebagai bulan berkah, bulan pengendalian diri, bulan kasih sayang, bukan untuk serakah.
Diakhir – akhir ramadhan semestinya dimanfaatkan memperbanyak ibadah, ramadhan disahabati/didekati karena akan pergi - tinggal beberapa hari lagi. tapi justru sibuk bergaya hidup mewah menyongsong masuknya hari Raya Idil fitri. Mereka yang memahami makna dan nilai yang terkandung diakhir – akhir ramadhan  akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk sibuk beribadah kepada Allah, mereka sadar bahwa ramadkan semakin tua semakin besar manfaatnya, bukan sibuk ke pasar dan ditempat-tempat belanja.
Mereka yang gemar bergaya hidup mewah akan memaknai bahwa tujuan bulan puasa adalah untuk menyongsong masuknya hari lebaran, dimana harus berpenampilan serba baru, mulai dari prabot rumah tangga; kursi baru, gorden baru, sibuk bikin kue lebaran, kendaraan baru, melaksanakan tradisi berbuka (Mappabuka) dikalangan elit dan pejabat, dan yang banyak diundang adalah yang berkecukupan, adapun orang kurang mampu juga hadir tapi untuk memasak dan mempersiapkan sarana dan prasarana yang nantinya akan digunakan pada saat buka bersama. dan lain sebagainya. Karena kesibukan yang bersifat keduniaan itu, mereka tidak sadar bahwa diakhir ramadhan ada satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan “Khairum min alfi sahrin”, yaitu malam kemuliaan. Malam lailatul kadar pun lewat, tak berbekas sama sekali.
Kesadaran untuk bersedekah, berinfak, dan membayar zakat fitra dibulan ramadhan hendaknya ditingkatkan, karena itulah yang menghubungkan tali persaudaraan kepada sesama, penghubung antara simiskin dan sikaya, tanpa ada rasa minder bagi penerima – karena mereka punya hak, dan tak ada rasa bangga bagi pemberi – karena pada hartanya ada hak orang lain yang wajib diberikan.
Ada budaya baru dikalangan ummat muslim diakhir abad ini, dan penulis khawatir akan menggeser budaya lama, yaitu tidak lagi saling kunjung mengunjungi, tapi cukup dengan ucapan selamat hari raya idil fitri – mohon ma’ af lahir dan bathin melalui pesan singkat (SMS). Tradisi baru ini bukan tidak boleh, tapi jauh lebih bermakna jika tradisi/budaya lama dipertahankan, yaitu saling kunjung – mengunjungi - bersilaturrahmi diantara kerabat.
Budaya bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain adalah ber Halal Bi Halal, dan ini perlu dilestarikan. Halal Bi Halal adalah saling mengikhlaskan kata ma’af atas salah yang telah terjadi, dan menghalalkan tegur - sapa yang tadinya haram, karena tidak saling menyapa (baku bombe).
Selamat menjalankan ibadah puasa, dan ibadah lain dibulan ramadhan semoga kita menjadi orang yang muttaqin. Dan semoga Tuhan tambahkan nikmat-Nya yang telah kita infak dan sadakahkan, serta yang kita zakatkan kepada kaum duafa, amin. Minal aidin wal faizin, mohon ma’ af lahir dan bathin.